This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Translate

Translate

Senin, 09 April 2012

Qoul uLaMa'


Kesombongan
Aun bin Abdulloh berkata :

كَفَى بِكَ مِنَ اْلِكْبِر أَنْ تَرَكَ لَكَ فَضْلاً عَلَى مَنَْ هُوَ دُوْنَكَ

"Kafaa bika minal kibri an taroka laka fadhlan ala man huwa dunaka."
Artinya :
"Cukuplah kesombongan itu menghilangkan keutamaanmu dihadapan orang-orang dibawahmu." ( Sifatu Sofwa hlm juz 3 halaman 201 )



Sewenang-wenang, sombong dan terlalu malu
Imam Mujahid berkata :


لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ جَبَّارٌ وَلاَ مُسْتكْبِرٌ وَلاَ مُسْتَحْيٌ

"La yata'allamu al ilma Jabbarun wala mustakbirun wala mustahyun."
Artinya, "
"Tiada mendapatkan ilmu orang yang berlaku sewenang-wenang, orang yang sombong dan seorang yang pemalu." ( Al Faqiih wal Mutafaqqih juz 2 halaman 300 )

Hawa nafsu, persahabatan dan ujub
Wahab bin Munabbih berkata :

اِحْفَظُوا عَنِي ثَلاَثاً :
إيَّكُم وَالْهَوَى مُتَّبَعًا وَقَرِيْنُ سُوءٍ وَاِعْجَابُ الْمَرْء بِنَفْسِهِ

"Ihfadzuu 'anni tsalatsan : Iyyakum wal hawa muttaba'an wa qoriinu suu' wa 'ijabul mar'I binafsihi. "
Artinya :
"Jagalah dirimu dari tiga hal : hawa nafsu yang selalu diikuti, teman yang jelek dan bangga terhadfap diri sendiri." ( Siyar 'Alam an Nubala juz 4 halaman 541 )
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v :
فَدِيْنُ اْلمُسْلِمِيْنَ مَبْنِيٌّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ وَمَا اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ اْلأَئِمَّةُ، فَهَذِهِ الثَّلاَثَةُ أَصُوْلٌ مَعْصُوْمَةٌ (مجموعة فتاوى ابن تيمية 20/164)
"Agama kaum muslimin dibangun atas dasar; mengikuti kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan kesepatakan para imam (ijma')" (lihat Majmu'ah Fatawa Ibnu Taimiyah 20/164)






Abdullah bin Mas'ud z berkata:

إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كَتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ (رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة 1/97)
"Kalian akan menemui golongan-golongan yang mengaku mengajak kalian kepada kitabullah, padahal mereka menaruhnya dibelakang punggung mereka. Maka kalian harus berilmu dan janganlah berbuat bid'ah, janganlah berlebih-lebihan dalam beramal ataupun perkataan dan berpeganglah kepada para pendahulu (salaf) (HR. Al-Lalika'iy, Syarhu Ushuli I'tiqodi Ahlis Sunnah wal Jama'ah 1/97)

Asy-Sya'bi v berkata:
عَلَيْكَ بِآثَارِ السَّلَفِ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهَا لَكَ بِالْقَوْرِ (إعلام الموقعين 1/152)
"Berpeganglah kepada peninggalan para salaf walaupun karenanya kamu ditolak oleh orang banyak, jauhilah pendapat para tokoh, walaupun mereka menghiasi perkataan mereka." (I'lamul Muwaqi'in, Ibnu Qoyim Al-Jauziyah 1/152)

Abdullah bin Mas'ud radhiaallahu'anhu berkata:
مَنْ كَانَ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ n فَإِنَّهُمْ أَبَرُّ قُلُوْبًا وَأَعْمَقُهَا عِلْمًا وَأَقَلُّهَا تَكَلُّفًا وَأَقْوَمُهَا هَدْيًا وَأَحْسَنُهَا حَالاً، قَوْمٌ اِخْتَارَهُمُ الله ُلِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْا آثاَرَهُمْ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى اْلهُدَى اْلمُسْتَقِيْمِ (إعلام الموقعين 4/139)
"Barangsiapa yang mengikuti seseorang hendaklah ia mengikuti para sahabat Rasulullah n . Karena sesungguhnya hati mereka adalah sebaik-baik hati manusia. Ilmu mereka adalah sedalam-dalam ilmu manusia. Mereka paling sedikit bebannya (tidak mengadakan urusan-urusan yang memberatkan diri), paling lurus jalan (hidup)nya dan paling baik keadaan akhlaknya. Suatu kaum yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya, maka ketahuilah keutamaan mereka dan ikutilah atsar-atsarnya (jejak langkahnya) karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus." (I'lamul Muwaqi'in 4/139)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib zberwasiat:
اِرْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْئِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُوْنٌ، فَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَآءِ اْلآخِرَةِ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَآءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابٌ وَغَدًّا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ
"Dunia akan pergi berlalu, dan akhirat akan datang, dan keduanya mempunyai anak-anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya pada hari ini hanya ada amal tanpa hisab (perhitungan), dan besok hanya ada hisab (perhitungan) tanpa amal." (HR. Bukhori secara Mu'allaqa)

Imam Malik v berkata:
لاَيَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلهُاَ
"Generasi akhir ummat ini tidak akan baik kecuali dengan (jalan hidup) yang telah menjadikan baik generasi pendahulunya." (Dikutip dari buku Khutbatul Jum'at Pilihan hal. 197)





Sufyan Ats-Tsauri v berkata:
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمَعْصِيَّةِ. اْلمَعْصِيَّةُ يُتَابُ مِنْهَا وَاْلبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا (شرح أصول الإعتقاد أهل السنة والجماعة للكائي 1/132)
"Perbuatan bid'ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid'ah tidak akan bertaubat dari kebid'ahannya." (Syarh Ushulil I'tiqadi Ahli Sunnah wal Jama'ah, Al-Lalikaiy 1/132)

Ayub As-Sikhtiyani v berkata:
مَازْدَادُ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْدًا (الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع، للإمام السيوطي : 66)
"Tidaklah seorang yang melakukan bid'ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid'ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah." (Al-Amru bil Ittiba' wan Nahyu 'Anil Ibtida', Imam As-Suyuti, hal. 66)

Abdullah bin Umar z berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً (المدخل إلى السنن الكبرى للبيهقي رفم : 191)
"Setiap bid'a itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandang hal itu tampak baik." (Al-Madkhol ilas Sunanil Kubra, Al-Baihaqi, no. 191)

Ibnul Qoyim v berkata:
احْذَرُوْا مِنَ النَّاسِ صِنْفَيْنِ: صَاحِبُ هَوَى قَدْ فَتَنَهُ هَوَاهُ وَصَاحِبُ دُنْيَا أَعْمَتْهُ دُنْيَاهُ (إغاثة اللهفان، لابن القيم الجوزية، 2/586)
"Waspadalah kalian terhadap dua tipe manusia, pengikut hawa nafsu yang diperbudak oleh hawa nafsunya dan pemburu dunia yang telah dibutakan (hatinya) lantara dunia (yang telah dicapainya)" (Ighotsatul Lahfan, Ibnul Qoyim Al-Jauziyah 2/586)

Imam Malik v berkata:
مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ اِلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعِمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَيَكُنِ اْليَوْمَ دِيْنًا
"Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu bid'ah dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka dia telah menuduh Muhammad menghianari risalah, karena Allah telah berfirman: "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agamamu." Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul), bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini." (Dakwatul Kholaf Ila Thoriqis Salaf, Muhammad bin Ali bin Ahmad Bafadhl, hal.)

Umayyah bin Shalt v berkata:
أَيُّمَا شَاطِنٌ عَصَاهُ عَكَاهُ وَرَمَاهُ فِيْ السِّجْنِ وَاْلأَغْلاَلِ
"Siapa yang tidak mampu mengendalikan lidahnya, ia akan menjerumuskan yang punya kedalam penjara dan belenggu rantai." (Edisi terjemah, Mashoibul Insan Min Makaidisy Syaithan, Al-Imam Ibrahim bin Muhammad bin Muflih Al-Maqdisi Al-Hanbali, hal. 8)




Abdullah bin Mas'ud zberkata:
الْقَصْدُ فِي السُنَّةِ خَيْرٌ مِنَ اْلإِجْتِهَادِ فِي اْلبِدْعَةِ (رواه الدارمي، رقم : 223)
"Sederhana dalam Sunnah lebih baik dari pada bersungguh dalam masalah bid'ah." (HR. Ad-Darimi no. 223, dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Abdullah bin Mas'ud zberkata:
تَعَلَّمُوْا اْلعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ، وَقَبْضُهُ أَنْ يَذْهَبَ أَهْلُهُ، أَلاَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَنَطُّعِ وَالتَعَمُّقِ وَالْبِدَعِ، وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ (رواه الدارمي، رقم 144 بسند ضعيف)
"Pelajirah ilmu sebelum itu hilang, dan hilangnya ilmu itu dikarenakan wafatnya para ahlina. Ingatlah! Hendaknya kamu menjauhi memfasih-fasihkan dalam perkataan, berpanjang lebar dalam ucapan, dan bid'ah (menciptakan hal-hal yang baru dalam masalah agama), dan hendaknya kalian berpegang teguh kepada yang lama (salaf). (HR. Ad-Darimi no. 144, sanadnya dianggap dhoif)

Ibnu Abbas zberkata:
إِنَّ أَبْغَضُ اْلأُمُوْرِ إِلَى اللهِ تَعَالَى الْبِدَعُ، وَإِنَّ مِنَ اْلبِدَعِ اْلاِعْتِكَافُ فِي الْمَسْجِدِ الَّتِيْ فِي الدُوْرِ
"Hal yang paling dibenci oleh Allah adalah bid'ah, dan diantara perbuatan yang termasuk dalam perbuatan bid'ah adalah beri'tikaf di masjid dengan membuat lingkarang." (Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra 4/316)

Umar bin Abdul Aziz v berkata:
أُصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى، وَاْلإِقْتِصَادِ فِيْ أَمْرِهِ، وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ رَسُوْلِه n ، وَتَرَكَ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُوْنَ بَعْدُ
"Aku berwasiat kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah, menjalankan perintah-Nya, mengikuti Sunnah Rasul-Nya, dan meninggalkan sesuatu yang disampaikan oleh orag-orang yang senantiasa menciptakan hal-hal yang baru (dalam masalah agama) sepeninggalanku." (Bid'ah yang dibungkus dengan hadits palsu, Abu Syama', hal. 40)

Umar bin Khattab zberkata:
نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هَذِهِ يَعْنِيْ إِنَّهَا مُحْدَثَةُ لَمْ تَكُنْ، وَإِذَا كَانَتْ فَلَيْسَ فِيْهِ رَدٌّ لِمَا مَضَى
"Ini adalah bid'ah yang baik, yakni yang baru yang belum ada sebelumnya. Tetapi jika dilaksanakan, maka tidak bertentangan dengan ketentuan yang ada sebelumnya." (Bid'ah yang dibungkus dengan hadits palsu, Abu Syama', hal. 59)
قال الحسن :( إنّ العبد لايزال بخير ماكان له واعظ من نفسه وكانت المحاسبة من همته )
Qoola al Hasan : "innal 'abda laa yazaalu bikhoirin maa kaana lahu waa'idzun min nafsihi wakaanatil muhasabatu min himmatihi"
Al-Hasan berkata: " Sesungguhnya seorang hamba masih akan tetap baik selama masih memiliki penasehat dari jiwanya, serta menjadikan muhasabah sebagai capainya."
( Ibnu Qoyyim al Jauziyyah, Ighotsatuh al lahfan fii mashoyidisy syaithon, 1/158 )

قال ابن عون : ( ذكر الناس داء, وذكر الله دواء )
Qoola ibnu 'Aun : "Dzikrunnaasi daa'un, wa dzikrullah dawa'un"
Ibnu 'Aun berkata, : "Membicarakan manusia adalah penyakit, dan mengingat Allah adalah obat "
( Hisyam bin Ismail Ash Shoyani, Manhaj Ahlu sunnah wal JAma'ah fi an naqd wal hukmi alal akhorin, hlm.73)

قال الإمام أحمد : ( على كلّ حال من الأحوال القران كلام الله غير مخلوق)
Qola imam Ahmad : "ala kulli hal minalahwal al qur'an kalamullah ghoiru makhluk"
Imam Ahmad berkata : "Walau dalam kondisi apapun, al qur'an adalah kalamullah bukan makhluk"
( Abdurrahman bin Yusuf Al Jadi' , al aqidah as salafiyah fii kalami robbi al bariyyah wa roddiyah, hlm. 247 )

قال الإمام أحمد :( من قال : لفظي بالقران مخلوق فهو جهنيّ, ومن قال : غير مخلوق , فهو مبتدع لا يكلَّم )
Qoola imam Ahmad : "man qoola lafdzii bil qur'an makhluk fahuwa Jahmiy, wa man qoola ghoru makhluk fahuwa mubtadi' laa yukallam"
Imam Ahmad berkata : "Siapa yang mengatakan 'Lafadku membaca al Qur'an adalah makhluk' maka ia adalah Jahmiyah, dan siapa yang mengatakan : bukan makhluk maka ia ahlu bid'ah, tidak usah diajak bicara'
( Ibnu Taimiyah, Majmu' fatawa : 12 / 325 atau Abdurrahman bin Yusuf Al Jadi' , al aqidah as salafiyah fii kalami robbi al bariyyah wa roddiyah : 270 )


Oleh : Saifuddin

أقوال السلف
ابن أحمد

شميط بن عجلان :
من جعل الموت نصب عينيه لم يبال بضيق الدنيا ولابسعتها
( منهاج القاصدين 311 )

Berkata syamith bin 'Ajlan :
" Barang siapa yang menjadikan kematian senantiasa dihadapan matanya, maka dia tidak akan peduli dengan kesempitan dunia maupun kemewahannya."
( Minhajul Qoshidin : 311 )


قال فضيل بن عياض :
من أحب أن يذكر لم يذكر ومن كره أن يذكر ذكر
( سير الأعلام 432 )

Fudail bin iyadh berkata : barang siapa yang suka untuk disebut – sebut namanya maka ia tidak akan terkenal, dan barang siapa yang tidak suka untuk disebut – sebut namanya, maka ia akan terkenal.
( Siyarul A'lam : 432 )

قال وهب بن منبه
إحفظوا عني ثلاثا : إياكم وهوى متبعا وقريب سوء وإعجاب المرء بنفسه
( سير الأعلام 4\541 )

Wahab bin Munabih berkata :
jagalah dariku tiga perkara : 1] jauhilah olehmu dari mengikuti tiga hawa nafsu, teman yang buruk, dan bangga seseorang terhadap dirinya. ( Syiarul A'lam : 4 / 541 )


قال أبودرداء
إستعينواباالله من خشوع النفاق قيل وما خشوع النفاق ؟ أن يرى الجسد خاشعا والقلب ليس بخاشع
( الصفوة 1\363 )

Abu Darda berkata :

Berlindunglah kalian kepada Alloh dari Khusu'nya kemunafikan, ketika ditanyakan apakah khusunya nifak itu ? yaitu ketika penampilannya kelihatan khusu' padahal hatinya tidak khusu'
( as shofwah : 1 / 363 )



قال محمد بن إدريس الشافعي :
أحب الصالحين ولست منهم وأرجوأن أنال بهم شفاعة
( قادة الفكر الإسلامي - عبدالله بن سعد ص 386)

Imam syafi'i berkata :
saya mencintai orang – orang sholih, dan saya bukanlah dari kalangan mereka, saya berharap untuk mendapatkan syafaat bersama mereka
( Qodatul Fikri : 326 )

قال أبودرداء
إن من شرالناس عندالله عزوجل منزلة يوم القيامة عالما لم ينتفع بعلمه
( حياة الصحابة :3\244)
Berkata Abu Darda :
Sesungguhnya sejelek – jelek kedudukan manusia pada hari kiamat di sisi Alloh adalah orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya.
( Hayatus Shohabah : 3 / 244 )


قال الحسن البصري
: ليس الإيمان بالتحلي ولا بالتمني ولكنه ماوقر في الصدر وصدقته الأعمال

Hasan AL Bashri berkata :
Iman itu bukan hanya hiasan dan angan – angan, akan tetapi ia adalah sesuatu yang tertanam dalam lubuk hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan..
( al Izz al Hanafi, syarh al – aqidah At thohawiyah : 339 )


Umar ibnul khottob berkata:
”Haasibuu anfusakum qobla antuhaasibuu, dan timbanglah amalanmu sebelum amalanmu ditimbang, watuzayinuu lil ‘irdhi al akabar”.



Uamar bin khotob mengatakan
:”Siapa yang banyak bicara, pasti banyak salahnya. Siapa banyak salahnya, pasti banyak dosanya, dan siapa banyak dosanya, maka neraka lebih pantas baginya”.


Abul qosim al hakim berkata
:”siapa takut sesuatu tentu ia alkan lari darinya, tapi bila ia takut kepada Allah, justru ia mendekat kepadanya”.


Ahlul ilmi mengatakan
:”ihdzar min tsalats:
ihdzar zalatul alim wala ta’dzimuhu qodrohu, wattafaqo hafwatul jahil wala tu’adihi.Watunabbiha lighoflatirrojul assholih wala talzimuhu.
“hindari 3 perkara:
1. Tergelincirnya (lidah) seorang alim tapi jangan sampai meremehkan kapasitasnya.
2. Ocehan si jahil tapi jangan sampai memusuhinya.
3. lalainya seorang yang sholih dan tak perlu menggunjingnya.


Imam asy syafi’i mengatakan:
”Aku hidup, pasti aku makan. Aku mati, pasti dapat kuburan.citaku bak ambisi raja, jiwaku jiwa bebas merdeka, yangmemandang kekufuran tak ubahnya kehinaan kerendahan”.(ana in isytu lastu a’damu quutan. Wain mittu lastu a’damu qobron, himmatii, himmatul mulk, wanafsi nafsul hurri tarol madzallah kufron”.


Jibril berkata
:”yaa muhammad, isy maa syi’ta, fainnaka mayyitun, wa ahbib maa syi’ta fainnaka mufaariquhu, wa’mal maa syi’ta fainnaka mulaaqihi”. (’wahai Muhammad, hidpulah sekehendakmu, tapi engkau akan mati, cintailah apa saja, tapi engkau akan meninggalkannya dan berbuatlah semaumu tapi engkau akan dibalas”.


Sahl bin abdullah rohimahullah berkata:
”Alamatu hubbillah, hubbul qur’an, wa alaamatu hubbil qur’an hubbinnabiy S.A.W. wa alaamtu hubbinnabiy, hubbussunnah, wa alamatu hubbillah wahubbul qur’an wahubbinnabiy, hubbul akhiroh, wa alamatu hubbil akhiroh ayyuhibba nafsahu, wa alamatu hubbi nafsihi, ayyubghidhod dunya, wa alamatu bughdhid dunya alla ya’khudza minha illazzaad wal bulghoh”.







قال كعب : من أكثر ذكر الله عز وجل برئ من النفاق
Qaala Ka'ab: "Man Aktsara Dzikrillah 'Azza Wajalla Barium Minan Nifaq"
Berkata Ka'ab:" Barangsiapa yqang banyak berdzikir akepada Allah kama akan terlepas dari kenifakan".( Al Waabil Ash Shayyib, Ibnu Qayyim. Cet.I,th.1418 H/1997M, al Maktabah Al Islamiyah. Hal 109).
قال شيخ الإسلام ابن تيمية : الذكر للقلب مثل الماء للسمك , فكيف حال السمك إذا فارق الماء
Qaala Syikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Adz- Dzikru Lil Qalbi, Mitslu Al- Maai lissamak".
Berkata Syaikhul Islam :" Dzikir terhadap hati bagaikan air terhadap ikan maka bagaimana halnya ikan apabila terpisah dengan air".".( Al Waabil Ash Shayyib, Ibnu Qayyim. Cet.I,th.1418 H/1997M, al Maktabah Al Islamiyah. Hal 110 ).

قال لقمان لابنه : إن مثل أهل الذكر والغفلة كما النور والظلمة
Qaala Luqman Li Ibnihi, Inna Matsala Ahli Dzikri wal Ghaflah Kama An Nur wal Dzulumah"( Bidayah Wan Nihayah, Ibnu katsir, Juz.9/hal.226. Cet.I,tahun 1423 H/2003 M, Maktabah Ash Shafa ).
Berkata luqman kepada Anakmya:" Sungguh permisalan Ahli Dzikir dengan Orang yang lalai seperti Cahaya dan kegelapan".
قال على بن الحسين : إن الله يحب المؤمن المذنب التواب.
Qaala 'Ali Bin Husain, Inna Allaha Yuhibbul Mukmin Al Mudzannib At- Tawwab.
Berkata Ali Bin Husain:" Sungguh Allah mencintai seorang Mukmin Yang berdosa yang bertaubat"."( Bidayah Wan Nihayah, Ibnu katsir, Juz.9/hal.96. Cet.I,tahun 1423 H/2003 M, Maktabah Ash Shafa ).

Amir Hamdan
Aqwalus Salaf

وروى الخطيب البغدادي بإسناده عن إسحق بن عبدالله قال (أقرب الناس من درجة النبوة أهل العلم وأهل الجهاد، قال: فأما أهل العلم فدلّوا الناس علي ماجاءت به الرسل، وأما أهل الجهاد فجاهدوا على ماجاءت به الرسل) أهـ (الفقيه والمتفقِّه، 1/35).
Aqrabun nas min darajatin nubuwwati ahlul ilmi wa ahlul jihad, qala faamma ahlul ilmi fadallu annas ‘ala maja bihir Rasul, waamma ahlul jihad fajahadu ‘ala majaat bihir Rasul.
Diriwayatkan oleh al Khatib Al Baghdadi dengan sanadnya dari Ishaq bin Abdullah ia berkata: manusia yang paling dekat derajatnya dengan kenabian adalah ahlul ilmi dan ahlul jihad, ia berkata: ahlul ilmi mereka yang menunjuki manusia sesuai yang datang dari Rasulullah n , sedangkan ahlul jihad mereka berjihad sesuai dengan apa yang datang dari Rasulullah n .

وقال علي بن أبي طلحة عن ابن عباس (قوا أنفسكم وأهليكم ناراً) يقول اعملوا بطاعة الله واتقوا معاصي الله وَأْمُروا أهليكم بالذكر ينجيكم الله من النار. ( الجامع في طلب العلم الشريف )
Qala Ibnu Abi thalhah an Ibni Abbas ( quu anfusakum wa ahlikum naara ) yaqulu I’malu bitha’atillah wattaqu ma’ashillah wa amaru ahlikum bidz-dzikri yunji kumullah minannar.
Berkata Ali Bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai ayat ( quu anfusakum wa ahlikum naara ) ia berkata: kerjakanlah ketaatan kepada Allah k dan takutlah berbuat maksiat kepada allah dan perintahkanlah keluargamu dengan berdzikir, maka Allah k akan menyelamatkanmu dari api neraka.

شيـــخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله قال: ويجب تعليم أولاد المسلمين ماأمر الله بتعليمهم إياه، وتربيتهم على طاعة الله ورسوله. ( الجامع في طلب العلم الشريف )
Syaihul islam ibnu Taimiyyah v qala: wa yajibut ta’limu auladil muslimin ma amarallah bita’limihim iyyahu, wa tarbiyatihim ‘ala tha’atillah wa Rasulihi.
Syaikhul Islan Ibnu taimiyyah v berkata: wajib mengajarkan anak-anak kaum muslimin dengan apa-apa yang diperintahkan Allah k kepadanya dan mendidik mereka kepada ketaatan kepada Allah k dan Rasul-Nya.



JANGAN DI HAPUS PENTING
AQWALUS SALAF

قال الإمام أحمد : "لايوصف الله إلا بما وصف به نفسه أو وصفه به رسوله, لا يتجاوز القرآن والحديث "
ARTINYA: “Allah ktidak disifati kecuali dengan apa-apa yang telah Dia sifai sendiri atau disifati oleh RosulNya dan tidak menyelisihi Al Qu’an dan As Sunnah”.
( SYREH AQIDAH WASHITIYAH SYEH UTSAIMIN : 48)
قال ابن تيمية : من شر أقوال أهل البدع و الإلحاد
“Termasuk sejelek-jelek perkataan adalah perkataannya ahlu bid’ah dan atheis”.
( SYREH AQIDAH WASHITIYAH SYEH UTSAIMIN : 59)
Imam Malik ditanya tentang firmanNya surat Thoha: 5 "الرحمن على عرش استوى"
"كيف استوى ؟ فأطرق مالك برأسه حتى علاه العراق, ثم رفع رأسه وقال : "الإستواء معلوم و الكيف مجهول و الإيمان به واجب و السؤال عنه بدعة "
Bagaimanakah istiwa’nya Allah k? lalu Imam Malik memukul kepala orang itu sampai bercucuran keringatnya, lalu mengangkat kepalanya dan berkata; “istiwa’ itu telah diketahui, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”.
( SYREH AQIDAH WASHITIYAH SYEH UTSAIMIN : 64)
قال ابن القيم : "كلام المتقدمين قليل كثير البركة , و كلام المتأخرين كثير قليل البراكة".
Ibnu Qoyim berkata: “perkataan para pendahulu sedikit tapi banyak barokah, sedangkan perkataan para mutakhkhirin banyak tapi sedikit barokah”. ( hilyatu tholibil ilmi, syeikh bakar Abu Zaid)
قال نعيم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري : " من شبه الله بخلقه, فقد كفر, ومن جحد ما وصف الله به نفسه كفر وليس فيما وصف الله به نفسه أو بما وصف به رسوله تشبيه و لا تمثيل".
Nuaim bin Hamad Al Khoza’I Syaikhnya imam Bukhori berkata: “barang siapa yang meyerupakan Allah k dengan makhluqnya, maka sungguh ia telah kafir”. Karena ia telah mengumpulkan antara mendustakan khobar ( yaitu firmanNya dalam Asy Syuro: 11) dan menolak tholab (yaitu perintah Allah k agar tidak diserupakan dengan yang lainnya sebagaiman dalam An Nahl: 74). ( SYAIH AQIDAH WASHITIYAH SYAIH UTSAIMIN : 66 dan 83)
قال بعض السلف: "إذا قال لك الجهمي : إن الله ينزي إللى السماء, فكيف ينزل ؟ فقل : إن الله أخبرنا أنه ينزل , ولم يخبرنا كيف ينزل .
Berkata sebagian salaf: “jika orang jahmiyah berkata kepadamu: “sesungguhnya Allah k itu turun, lalu bagaimanakah Allah k turun? Maka katakanlah: “sesungguhnya Allah k menghabarkan kepada kita bahwa Dia turun namun tidak maenghabarkan kepada kita bagaimana kita turun.” ( SYAIH AQIDAH WASHITIYAH SYAIH UTSAIMIN : 63)
ومن كلام الشافعي : "آمنت بالله وبما جاء عن الله على مراد الله , وآمنت برسول الله و بما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
Dan termasuk dari perkataan Imam Syafi’I: “aku beriman kepada Allah k dan dengan apa yang datang darinya dan sesuai dengan apa yang dimaksudnya, demikian juga aku beriman kepada Rosululloh dan dengan apa yang dibawa Rosululloh sesuai dengan apa yang dikehendaki beliau”.
Diposkan oleh Mas Jumadi di 18.07

Sabtu, 07 April 2012

kEjUjUraN



Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman:
"Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur." (Q.s. At-Taubah: 119).

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Jika seorang hamba tetap bertindak jujur dan berteguh hati untuk bertindak jujur, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur; dan jika ia tetap berbuat dusta dan berteguh hati untuk berbuat dusta, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta." (H.r. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Kejujuran (shidq) adalah tiang penopang segala persoalan, dengannya kesempurnaan dalam menempuh jalan ini tercapai, dan melaluinya pula ada tata aturan. Kejujuran mengiringi derajat kenabian, sebagaimana difirmankan Allah swt.:
"…maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dan orang-orang yang menetapi kejujuran (shiddiqin), para syuhada' dan orang orang saleh." (Q.s. An-Nisa': 69).

Kata shadiq (orang yang jujur) berasal dari kata shidq (kejujuran) Kata shiddiq adalah bentuk penekanan (mubalaghah) dari shadiq, dan berarti orang yang didominasi oleh kejujuran. Demikian juga halnya dengan kata-kata lain yang bermakna penekanan, seperti sikkir dan pemabuk, yang penuh anggur (khimmir).

Derajat terendah kejujuran adalah bila batin seseorang selaras dengan perbuatan lahirnya. Shadiq adalah orang yang benar dalam kata-katanya. Shiddiqy adalah orang yang benar-benar jujur dalam semua kata-kata, perbuatan dan keadaan batinnya.

Ahmad bin Khadhrawaih mengajarkan, "Barangsiapa ingin agar Allah bersamanya, hendaklah ia berpegang teguh pada kejujuran, sebab Allah swt. bersama-sama orang yang jujur."

Al-Junayd berkata, "Orang yang jujur berubah empatpuluh kali dalam sehari, sedangkan orang riya' tetap berada dalam satu keadaan selama empatpuluh tahun."
Abu Sulaiman ad-Darany mengatakan, "Jika orang yang jujur ingin menggambarkan apa yang ada dalam hatinya, maka lisannya tidak akan mengatakannya."
Dikatakan, "Bersikap jujur berarti menegaskan kebenaran, meskipun terancam kebinasaan."

An-Naqqad mengatakan, "Sikap jujur berarti mencegah kedua rahang (syidq) dari mengucapkan apa yang terlarang. "
Abdul Wahid bin Zaid berkomentar, "Sikap benar adalah kepada Allah swt. dalam tindakan."

Sahl bin Abdullah mengatakan, "Seorang hamba yang menipu diri sendiri atau orang lain tidak akan mencium harum semerbaknya kebenaran. "
Abu Sa'id al-Qurasyi mengatakan, "Orang yang jujur adalah orang yang siap mati dan tidak akan malu jika rahasianya diungkapkan. Allah swt. berfirman, "Maka inginkanlah kematian, jika kamu orang orang yang jujur." (Q.s. Al Baqarah: 94)."

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, "Suatu hari Abu Ali ats-Tsaqafy sedang memberikan pelajaran, tiba-tiba Abdullah bin Munazil berkata kepadanya, 'Wahai Abu Ali, siapkanlah diri Anda untuk mati, sebab tidak ada jalan untuk lari darinya.' Abu Ali menjawab, 'Dan Anda, wahai Abdullah, siapkanlah diri untuk mati, sebab tidak ada jalan lari darinya.' Maka di saat itulah Abdullah merebahkan diri, membentangkan kedua tangannya, menundukkan kepalanya dan mengatakan, Aku mati sekarang.' Abu Ali pun diam terpaku karenanya, dimana dirinya tidak mampu menandingi apa yang dilakukan Abdullah karena Abu Ali masih terpaut pada dunia, sedangkan Abdullah telah terbebas dari ikatan dunia."

Ahmad bin Muhammad ad-Dainury sedang berbicara di hadapan sekumpulan orang ketika seorang wanita di antara mereka berteriak. Abul Abbas memarahinya dengan kata-kata, 'Matilah engkau!' Wanita itu bangkit, maju beberapa langkah, berpaling kepadanya dan berkata, 'Aku telah mati.' Kemudian ia jatuh ke tanah dan mati.
Al-Wasithy berkata, "Kejujuran adalah keyakinan yang kokoh terhadap tauhid bersama-sama dengan mati."

Dikatakan, 'Abdul Wahid bin Zaid memandang kepada seorang pemuda di antara para sahabatnya, yang bertubuh kurus kering, dan Abdul Wahid bertanya kepadanya, 'apakah engkau telah terlalu lama memperpanjang puasamu?' Pemuda itu menjawab, 'Aku juga. Bukan memperpanjang berbuka.' Kemudian Abdul Wahid bertanya, 'Apakah engkau telah memperpanjang waktu bangun untuk shalat malammu?' Pemuda itu menjawab, 'Bukan, bukan pula aku telah memperpanjang tidur.' Lalu Abdul Wahid pun bertanya, Apa yang telah membuatmu begitu kurus?' Pemuda itu menjawab, 'Hasrat yang selalu berkobar dan rahasia terpendam yang abadi. 'Abdul Wahid berseru, 'Dengarlah, betapa beraninya pemuda ini!' Pemuda itu lalu berdiri, maju dualangkah dan berteriak, 'Ya Allah, jika aku memang tulus, ambillah nyawaku sekarang juga!' lalu ia pun jatuh dan meninggalkan dunia ini.

Abu Amr az-Zujajy menuturkan, "Ibuku meninggal, dan aku mewarisi sebuah rumah beliau. Aku menjualnya dengan harga limapuluh dinar dan kemudian berangkat menunaikan ibadah haji." Setiba di Babilonia, seorang penggali saluran air bertanya kepadaku, 'Apa yang engkau bawa?' Aku berkata dalam hati, 'Kejujuran adalah yang terbaik' dan aku menjawab, 'Uang limapuluh dinar.' Ia berkata, 'Serahkanlah kepadaku!' Maka aku pun memberikan kantong uangku kepadanya. Dihitungnya jumlah semua uang di dalamnya, dan ternyata memang ada limapuluh dinar. Berkatalah ia, 'Ambillah kembali uangmu! Kejujuranmu menyentuh hatiku.' Lalu ia turun dari kudanya dan berkata, 'Naiklah kudaku!' Aku balik berkata, 'Aku tidak menginginkannya.' Ia berkata, 'Harus ...!' dan terus memaksaku menaiki kudanya. Akhirnya setelah aku bersedia naik di atasnya, ia berkata, 'Aku di belakangmu.' Satu tahun kemudian ia berhasil menyusulku, dan tinggal bersamaku hingga akhir hayatnya."
Ibrahim al-Khawwas menjelaskan, "Orang jujur tidak memandang kecuali kewajiban yang harus ditunaikan, atau ibadat utama bagi Allah swt."
Al-Junayd berkata, "Inti kejujuran adalah bahwa engkau berkata jujur di wilayah yang apabila seseorang berkata jujur tidak akan selamat kecuali berdusta."
Dikatakan, "Tiga hal tidak pernah lepas dari seorang: jujur ucapannya, kehadiran yang kharismatis dan pancaran taat di wajahnya. "
Dikatakan pula, "Allah swt. bersabda kepada Daud as, 'Wahat Daud, barangsiapa menerima apa yang Kukatakan dengan sejujurnya dalam batinnya, niscaya Aku akan mengukuhkan sifat juiur di kalangan makhluk manusia dalam lahiriahnya'."

Dikisahkan Ibrahim bin Dawhah memasuki padang pasir bersama Ibrahim bin Sitanbah. Kata Ibnu Dawhah, "Ibnu Sitanbah mengatakan kepadaku, 'Campakkanlah segala apa yang mengikatmu!' Aku melemparkan segala sesuatu yang ada padaku, kecuali uang satu dinar. Lalu ia berkata, 'Wahai Ibrahim, janganlah engkau membebani pikiranku! Campakkanlah keterikatanmu!' Maka dinar itu pun lalu kulemparkan. Tapi lagi-lagi ia mengatakan, 'Wahai Ibrahim, campakkanlah keterikatanmu!' Lalu aku ingat bahwa aku masih memiliki beberapa utas tali sandal cadangan, yang lalu kulemparkan juga. Selanjutnya, dalam perjalananku, setiap kali aku memerlukan tali sandal, maka muncullah seutas tali sandal di hadapanku. Ibrahim bin Sitanbah mengatakan, 'Inilah orang yang beramal dengan Allah swt. secara jujur'."
Dzun Nuun al-Mishry berkata, "Kejujuran adalah pedang Allah. Tidak satu pun diletakkan padanya, kecuali akan memotongnya."
Sahl bin Abdullah mengatakan, 'Awal pengkhianatan orang-orang jujur adalah munculnya keraguan dengan dirinya."

Ketika ditanya tentang kejujuran, Fath al-Maushaly memasukkan tangannya ke dalam bara api seorang tukang besi, mengambil sebatang besi yang merah membara, meletakkannya di telapak tangannya dan berkata, "Inilah kejujuran!"
Yusuf bin Asbat berkata, "Aku lebih suka menghabiskan waktu semalam bersamaAllah swt. dalam kejujuran jiwa daripada berperang dengan pedangku dijalan-Nya."
Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan, "Kejujuran adalah seperti engkau menganggap dirimu sebagaimana adanya, atau engkau dilihat seperti apa adanya dirimu."

Ketika al-Harits al-Muhasiby ditanya tentang tanda-tanda kejujuran, ia menjawab, "Orang yang jujur adalah orang yang manakala tidak peduli akan ketergantungan kalbu manusia kepada dirinya, tidak pula senang atas jasanya kepada manusia untuk dilihat, dan yang tidak peduli apakah popularitasnya di antara manusia akan lenyap. Ia bahkan tidak membenci bila perbuatan buruknya dilihat oleh orang banyak. Jika ia benci, ia perlu menambah imannya. Dan yang demikian itu bukanlah ciri akhlak orang orang jujur."
Salah seorang Sufi berkomentar, "Jika seseorang tidak memenuhi satu kewajiban agama yang abadi, maka pelaksanaan kewajiban-kewajiban agamanya sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan tidak akan diterima." Seseorang bertanya, 'Apakah kewajiban agama yang abadi itu?" Ia menjawab, "Kejujuran."

Dikatakan, "Jika engkau mencari Allah swt. dalam kejujuran, niscaya Dia akan memberimu cermin yang di dalamnya engkau akan melihat semua keajaiban dunia dan akhirat."
Dikatakan, "Engkau harus berlaku jujur ketika merasa takut bahwa hal itu akan mencelakakanmu, padahal itu akan bermanfaat bagimu. Janganlah mempu ketika engkau mengira hal itu akan menguntungkanmu, padahal pasti ia akan merugkanmu."

Dikatakan juga, "Tiap-tiap sesuatu punya arti, tapi persahabatan seorang pendusta tidak berarti apa-apa."
Dikatakan, "Tanda seorang pendusta adalah kegairahannya untuk bersumpah sebelum hal itu dituntut darinya."
Ibnu Sirin mengatakan, "Lingkup pembicaraan itu demikian luas hingga (sebetulnya) orang tldak perlu berdusta.
Dikatakan, "Seorang pedagang yang jujur tidak pernah melarat."
---(ooo)---

IsTiQmaH


Istiqamah
Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, 'Hendaknya kamu sekalian tidak takut dan tidak gelisah, dan hendaknya kamu sekalian bergembira dengan surga yang telah dijanjikan untuk kamu sekalian." (Q.s. Fushshilat: 30).

Riwayat dari Tsauban, bekas budak Rasulullah saw, menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Berteguh-hatilah (istiqamahlah) kamu, meskipun kamu tidak akan mampu melakukan sepenuhnya. Ketahuilah bahwa bagian terbaik dari agamamu adalah shalat, dan tiada seorang yang akan memelihara wudhu, kecuali orang yang beriman." (H.r. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi).
Syeikh Ali ad-Daqqaq berkata, "Istiqamah adalah derajat yang menjadikan urusan-urusan seseorang menjadi baik dan sempurna, dan memungkinkannya untuk mencapai manfaat manfaat secara tetap dan teratur. Upaya dan perjuangan orang yang tidak teguh hati akan sia-sia."

Allah swt. berfirman:
"Dan janganlah kamu seperti seorang wanita yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi ceraiberai kembali." (Q.s. An Nahl: 92).

Orang yang tidak istiqamah dalam keberadaannya tidak akan pernah meningkat dari satu tahapan ke tahapan maqam berikutnya, dan suluknya tidak akan kokoh. Salah satu persyaratan yang perlu pada awal suluk adalah memenuhi persyaratan-persyaratan istiqamah dalam hukum kepermulaan. Sebagaimana bagi 'arifin, istiqamah merupakan pangkalnya. Tanda istiqamah dari mereka yang mulai menempuh suluk adalah bahwa amal-amal lahiriah mereka tidak dicemari oleh kesenjangan. Bagi mereka yang berada pada tahap pertengahan (ahlul wasaith) adalah bahwa tidak ada kata "berhenti". Tanda istiqamah mereka yang berada pada tahap akhir adalah, bahwa tidak ada tabir yang melindungi mereka dari kelanjutan wushulnya.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menjelaskan, 'Ada tiga derajat istiqamah: Menegakkan segala sesuatu (taqwim), meluruskan segala sesuatu (iqamah), berlaku teguh (istiqamah). Taqwim menyangkut disiplin jiwa; iqamah berkaitan dengan penyempurnaan hati, dan istiqamah berhubungan dengan tindak mendekat kepada Allah dengan jalan sirri."

Abu Bakr ash-Shiddiq r.a. berkomentar, "Makna firman Nya, '… kemudian mereka beristiqamah,' adalah bahwa mereka tidak menyekutukan Allah swt. dengan sesuatu pun." Umar bin Khaththab r.a. mengajarkan, "Artinya, mereka tidak mempu orang lain seperti rubah."

Pendapat Abu Bakr merujuk pada pelaksanaan prinsip-prinsip tauhid, sedangkan pendapat Umar merujuk kepada sikap mencegah diri dari penafsiran penafsiran yang dipaksakan, dan pelaksanaan syarat-syarat perjanjian.

Ibnu Atha' mengatakan bahwa ayat di atas berarti, "Mereka istiqamah dalam membatasi hati mereka kepada Tuhan."

Abu Ali al-Juzajany berkata, "Jadilah pemilik istiqamah, bukan pencari karamah. Sebab nafsumu masih berkutat mencari karamah, padahal Allah swt. menuntutmu istiqamah."

Abu Ali asy-Syabbuwy menuturkan, "Aku bermimpi bertemu dengan Nabi saw, dan aku berkata kepada beliau, 'Dikabarkan bahwa Paduka bersabda, 'Surat Huud telah membuat rambutku menjadi putih.' Apakah (rambut Paduka menjadi putih karena) kisah kisah para Nabi ataukah karena dimusnahkannya ummat ummat (zaman dahulu)?' Beliau menjawab, 'Bukan, melainkan karena firman Allah swt.:
"Maka beristiqamahlah kamu sebagaimana kamu telah diperintah!" (Q.s. Huud: 112)."

Dikatakan,"Hanya orang orang besar saja yang dapat memelihara istiqamah, sebab hal ini meninggalkan perkara yang sebelumnya disepakati dan meninggalkan adat serta kebiasaan, menegakkan ketulusan secara esensial di sisi Allah swt. Karena itu, Nabi saw. bersabda, 'Beristiqamahlah kamu, meskipun kamu sekalian tidak akan mampu melakukan sepenuhnya'!"
Al-Wasithy mengatakan, "Istiqamah adalah sifat akhlak sempurna, tanpa istiqamah akhlak akan menjadi buruk."

Asy-Syibly berkata, "Istiqamah berarti engkau menghadapi setiap waktu, sebagai wahana bangkitnya. "
Dikatakan, "Istiqamah dalam berbicara berarti meninggalkan perbuatan menggunjing orang, dalam tindakan berarti menjauhi bid'ah, dalam amal saleh berarti meninggalkan kemalasan dan dalam keadaan (haal) batin ia berarti menyingkap hijab."

Saya mendengar Syeikh Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan bin Furak menjelaskan, "Huruf siin dalam lafadz 'istiqamah' adalah siin pencapaian. Artinya, mereka memohon istiqamah dalam bertauhid, kemudian dalam menepati janji, dan dalam menjaga batas-batas perilaku mereka sesuai dengan ketetapan Allah swt."

Ketahuilah bahwa istiqamah melahirkan ketetapan akan karamah. Allah swt. berfirman:
"Jikalau mereka tetap berjalan lurus (istiqamah) di atas tharikat itu, niscaya Kami akan memberi mereka minum dengan air yang berlimpah." (Q.s. Al-Jin: 16).

Allah swt. tidak berfirman, "Kami akan membiarkan mereka minum," melainkan, "Kami akan memberi mereka minum dengan air yang berlimpah," yang menunjukkan keabadiannya.

Al-junayd berkata, "Aku berjumpa dengan salah seorang penempuh jalan Allah (salik) di padang pasir di bawah sebatang pohon, dialah Ummu Ghailan. Kutanyakan kepadanya, 'Mengapa Anda duduk di situ?' Ia menjawab, Ada peristiwa, aku kehilangan sesuatu, dan aku berlalu meninggalkannya. Ketika aku kembali dari ibadat haji, aku bersama pemuda, kutemukan barang tersebut telah berpindah ke sebuah tempat yang lebih dekat ke pohon itu' Aku bertanya, 'Mengapa Anda duduk di sini?' Ia menjawab, Aku telah menemukan apa yang telah kucari di tempat ini jadi tetap saja aku duduk di sini'." Al-Junayd berkata, "Aku tidak tahu mana yang lebih mulia, kegigihannya karena kehilangan keadaan, atau keteguhan hatinya tinggal di tempat di mana ia telah mencapai kehendaknya."
---(ooo)---


DIAM


Syeikh Abul Qasim Al-Qusyairy

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak mengganggu tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah menghormati tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (H.r Bukhari Musliln dan Abu Dawud).

Dari Abu Umamah, bahwasanya 'Uqbah bin Amir bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?"
Beliau menjawab, "Jagalah lidahmu, berpuaslah dengan rumahmu, dan menangislah untuk dosa dosamu. " (H.r. Tirmidzi).
Syeikh ad-Daqqaq berkata, "Diam mencerminkan rasa aman dan merupakan aturan yang mesti dilaksanakan; penyesalan akan mengikutinya apabila orang terpaksa mencegahnya. Seharusnya dalam diam, mempertimbangkan di dalamnya hukum syara', perintah-perintah dan larangan larangan harus dipatuhi di dalam sikap diam. Diam pada waktu yang tepat adalah termasuk sifat para tokoh. Begitupun bicara pada tempatnya merupakan karakter yang mulia."
Selanjutnya Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, "Barangsiapa menahan diri untuk mengucapkan kebenaran adalah setan yang bisu."
Diam adalah salah satu sikap yang layak dalam menghadiri majelis Sufi, karena Allah swt. berfirman, "Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (Q.s. AI Nraf. 204). Dan Allah swt. menjelaskan pertemuan jin dengan Rasul saw. Firman Nya, "... maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)'." (Q.s. Al Ahqaf 29).
Allah swt. berfirman, "... dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja." (Q.s. Thaaha: 108).
Betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang diam, menjaga dirinya dari kebohongan dan fitnah, dengan hamba yang diam karena takut kepada raja yang menakutkan. Mengenai makna pernyataan ini, dibacakan baris-baris syair berikut ini:

Aku merenung, apa yang akan kukatakan saat kita berpisah,
Dan terus menerus kusempurnakan ucapan hiba,
Tiba tiba kulupakan ketika kita berjumpa,
Dan, kalau toh aku bicara, kuucapkan kata kata hampa.
Para Sufi juga mendendangkan nada-nada ini:
Betapa banyak kata-kata yang ingin kucurahkan padamu,
Hingga ketika kesempatan bertemu denganmu,
Segalanya jadi kelu.

Juga baris berikut ini:
Kulihat bicara menghiasi oranq muda,
Sedang diam adalah paling baik bagi yang tenang.
Karenanya, betapa banyak huruf yang membawa maut,
Dan betapa banyak pembicara yang berangan
Seandainya ia bisa diam.

Ada dua jenis diam: Diam lahir dan diam batin. Hati orang yang tawakal adalah diam pada ketentuan rezeki yang diberikan. Sedang orang 'arif, hatinya diam untuk berhadapan dengan ketentuan melalui sifat keselarasan. Yang pertama adalah dengan senantiasa memperbagus perbuatannya secara kokoh, dan yang kedua, adalah merasa puas terhadap semua yang ditetapkan oleh Nya.

Alasan untuk diam boleh jadi merupakan ketakjuban yang disebabkan oleh pemahaman secara mendadak, lantaran apabila masalah tertentu tiba-tiba tampak jelas, maka kata-kata menjadi bisu dan tidak ada kefasihan maupun ucapan. Dalam situasi seperti ini, kesaksian terhapuskan dan tidak dijumpai baik pengetahuan maupun penginderaan. Allah swt. berfirman:
"(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para Rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka), Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu? 'Para Rasul menjawab, "Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu). "' (Q.s. Al Maidah: 109).

Prioritas dalam mujahadah adalah diam, sebab mereka mengetahui bahaya yang terkandung dalam kata-kata. Mereka juga menyadari bahaya nafsu berbicara, memamerkan sifat-sifat mengundang pujian manusia dan ambisi untuk meraih popularitas di kalangan sejawatnya karena keindahan tutur katanya. Mereka menyadari bahwa ini semua termasuk dalam kelemahan-kelemahan manusia. Ini merupakan gambaran orang yang terlibat dalam olah ruhani. Diam sebagai salah satu prinsip bagi aturan tahapan dan penyempurnaan akhlak.

Ketika Dawud ath-Tha'y berkeinginan tetap tinggal di rumah, ia memutuskan untuk menghadiri majelis Abu Hanifah, sebab ia adalah salah seorang muridnya. la duduk bersama ulama yang lain, dan tidak memberikan komentar berkenaan dengan masalah-masalah yang didiskusikan. Ketika jiwanya menjadi kuat dengan diam dan praktik diam yang dilakukan selama setahun, ia lalu tinggal di rumah dan memutuskan ber'uzlah.

Bisyr ibnul Harits mengajarkan, “Apabila berbicara menyenangkan Anda, diamlah. Apabila diam menyenangkan Anda, berbicaralah."
Sahl bin Abdullah menegaskan, "Diam seorang hamba tidak akan sempurna, kecuali sesudah ia memaksakan diam atas dirinya."
Abu Bakr al-Farisy mengatakan, "Apabila tanah kelahiran seorang hamba bukanlah diam, maka hamba tersebut akan berbicara berlebihan, meskipun tidak mempergunakan lidahnya. Diam tidak terbatas pada lidah, tetapi meliputi hati dan semua anggota badan."
Salah seorang Sufi berkata, "Orang yang tidak menggunakan diam ketika berbicara, adalah tolol."
Mumsyad ad-Dinawary berkata, "Orang-orang bijak mewarisi kebijaksanaan dengan diam dan kontemplasi."

Kekita Abu Bakr al-Farisy ditanya tentang diam sirri, dijawabnya, "Diam sirri adalah menjauhkan diri dari kepedihan terhadap masa lampau dan masa depan." Dikatakannya pula, "Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya, dan keharusan keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam."
Mu'adz bin Jabal r.a. berkata, "Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan (dapat) melihat Nya."
Dzun Nuun al-Mishry ditanya, "Di antara manusia, siapakah pelindung terbaik bagi hatinya?" Dijawab Dzun Nuun, "Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya. "
Ibnu Mas'ud berkata, "Tidak ada sesuatu pun yang patut diikat berlama lama lebih dari lidah."
Ali bin Bukkar mencatat, "Allah menjadikan dua pintu bagi segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir dan dua baris gigi."

Konon Abu Bakr ash Shiddiq r.a. biasa mengulum sebutir batu selama beberapa tahun dengan tujuan agar lebih sedikit berbicara.
Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya, "Engkau berbicara, dan bicaramu sangat bagus. Sekarang tinggallah bagimu untuk berdiarn, sehingga engkau menjadi bagus!" Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara sampal wafat menjemputnya.

Manakala asy-Syibly sedang duduk di tengah lingkaran murid-muridnya dan mereka tidak mengajukan pertanyaan, maka ia bermaksud akan mengatakan, "Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata (apa apa)." (Q.s. An Naml: 85). Terkadang seseorang yang terbiasa berbicara menjadi diam, karena ada kaum Sufi yang lebih layak dari dirinya untuk berbicara.
Ibnus Sammak menuturkan, bahwa Syah al-Kirmany dan Yahya bin Mu'adz berteman, dan mereka tinggal di kota yang sama, tetap Syah tidak menghadiri majelisnya. Ketika ditanya alasannya, menjawab, "Sudah sepatutnya begini." Orang orang pun lantas mendesaknya terus hingga suatu hari al-Kirmany datang ke majells Yahya dan duduk di pojok di manaYahya tidak akan dapat melihatnya. Yahya pun mulai berbicara, namun secara tiba-tiba ia diam. Kemudian Yahya mengumumkan, 'Ada seseorang yang dapat berbicara lebih baik dariku," dan ia tidak mampu melanjutkan perkataannya itu. Maka al-Kirmany berkata, "Sudah kukatakan kepada Anda semua bahwa, adalah lebih baik jika aku tidak datang ke majelis ini."

Terkadang seorang pembicara memaksakan diri untuk diam karena keadaan tertentu yang ada pada salah seorang yang hadir. Barangkali seseorang yang hadir tidak layak mendengar pembicaraan terkait, hingga Allah swt. mencegah lidah si pembicara demi ketentraman dan perlindungan dari mendengar pembicaraan itu. Sehingga Allah swt. menjaganya terhadap pendengar yang bukan kompetennya.

Para syeikh yang ahli mengenal tharikat ini telah menjelaskan, "Terkadang alasan diamnya seseorang adalah karena ada jin yang hadir, yang bukan kompetennya. Karena majelis Para Sufi tidak pernah sepi dari kehadiran sekelompok jin."

Syeikh Abu Ali ad Daqqaq menuturkan, "Suatu ketika aku jatuh sakit di Marw, dan ingin kembali ke Naisabur. Aku bermimpi bahwa sebuah suara menyeru kepadaku, 'Engkau tidak dapat meninggalkan kota ini. Ada sekelompok jin yang menghadiri majelis majelismu dan mereka memperoleh manfaat dari ceramah ceramah yang engkau berikan. Demi mereka, tinggallah di tempatmu'!"
Salah seorang ahli hikmah berkata, "Manusia diciptakan hanya dengan satu lidah, namun dianugerahi dua mata dan dua telinga, agar ia mendengar dan mau melihat lebih banyak dari berbicara."

Ibrahim bin Adham diundang ke sebuah pesta. Ketika ia duduk, orang-orang mulai bergunjing dan memfitnah satu sama lain. Ia lalu berkata, "Kebiasaan kami adalah makan daging sesudah makan roti. Anda ini malah makan daging lebih dahulu. " Ucapannya ini merujuk kepada firman Allah swt.:
"Maukah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepada perbuatan itu." (Q.s. Al Hujurat: 12).

Salah scorang Sufi berkata, "Diam adalah bahasa ketabahan."
Sebagian mereka mengatakan, "Belajarlah diam sebagaimana kamu belajar berbicara. Jika bicara menjadi pembimbingmu, maka diam rnenguatkanmu."
Dikatakan, "Menjaga lisan adalah lewat diamnya." Ada yang mengatakan, "Lisan ibarat binatang buas, jika tidak kamu ikat akan menyerangmu."

Abu Hafs ditanya, "Keadaan manakah yang lebih baik bagi seorang wali, diam atau berbicara?" Ia menjawab, "Jika si pembicara mengetahui ada efek negatif dari pembicaraannya, hendaklah ia tinggal diam, bila mungkin selama usia Nabi Nuh as. Tetapi jika orang yang diam mengetahui efek negatif dari diamnya, hendaklah berdoa kepada Allah swt. agar diberi waktu dua kali usia Nabi Nuh as. agar dapat berbicara (agar bisa menunjukan kebaikan)."

Dikatakan, "Diam bagi kaum awam dengan lidahnya, diam bagi kaum yang ma'rifat kepada Allah swt. dengan hatinya, dan diam bagi para pecinta (muhibbin) adalah menahan pikiran menyimpang yang menyelusup pada hati sanubari mereka."

Sebagian sufi mengisahkan, 'Aku mengekang lidahku selama tigapuluh tahun, sehingga aku tidak mendengar ucapanku kecuali dari kalbuku. Kemudian aku mengekang kalbuku tigapuluh tahun, sehingga tidak mendengar kalbuku kecuali dari ucapanku."
Salah seorang Sufi mengatakan, "jika lidah Anda didiamkan, maka belum tentu Anda telah diselamatkan dari kata kata hati Anda. Jika Anda telah menjadi batang tubuh yang kering kerontang, Anda masih belum terbebas dari kata kata hawa nafsu Anda. Dan bahkan Jika Anda berjuang dengan susah payah, jiwa Anda masih belum akan berbicara dengan Anda sebab ia adalah tempat tersimpannya batin."

Dikatakan, "Lidah seorang tolol adalah kunci menuju kematiannya." Dikatakan juga, "jika seorang pecinta berdiam diri, maka ia akan binasa, dan jika seorang 'arif berdiam diri, ia akan berkuasa."

Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Barangsiapa memperhitungkan kata-katanya dibanding amalnya, maka kata-katanya akan menjadi sedikit, kecuali apa yang berarti (menurut kebutuhannya)."
---(ooo)---